Intelektualitas/kecerdasan
otak tidak lebih penting daripada perasaan karena perasaan justru memegang
peranan /pengaruh yang dominan dalam sikap, reaksi dan tindakan yang dilakukan.
Hidup yang lebih
menekankan Yang/intelektualitas/prinsip
pria menjadi kurang peka, tidaklah demikian jika yang diutamakan Ying/perasaan/prinsip wanita maka dengan
membiarkan perasaan ini muncul akan membangkitkan beragam motivasi dalam hidup
sehingga membuat lebih bergairah dalam menjalani hidup, lebih jujur serta
realistis dalam menyikapi situasi. Memang dalam hal ini akan menyebabkan
timbulnya kesulitan (misal depresi/marah), tetapi melalui itu akan terjadi pengalaman
mistik-religius yaitu pada saat terjalin persatuan afektif dengan Tuhan. Namun
demikian memang dapat dikatakan bahwa agama apapun itu takut menghadapi
perasaan-persaan. Persatuan dengan Tuhan adalah persatuan yang penuh afeksi,
bukan intelektualitas.
Tuhan Yesus sendiri
selama hidupnya juga menunjukkan bagaimana Dia mengungkapkan perasaanNya yaitu
saat sedih, takut dan marah (menangis di makam Lazarus, berdoa di Getsemani,
melihat perdagangan di Kenisah). Disini kita bisa melihat bahwa Kitab Suci
ingin menyapa dan menggerakkan perasaan kita, sebab melalui hati, Allah
berbicara dan menyapa, jadi betapa pentingnya peranan dalam diri kita. Dengan
perasaan orang lebih dapat berekspresi, penuh pertimbangan untuk mengatakan
tidak/ya, tidak dapat ditekan oleh orang lain. Tanpa perasaan hidup terasa
lapar dan haus, tidak dapat memberi reaksi/menerima kenyataan yang terjadi
serta orang-orang disekitarnya. Reaksi
terhadap perasaan tidak sama pada setiap orang, unik dan berbeda namun
memiliki corak umum. Adapun perbedaan dan keunikan itu dipengaruhi oleh alam
bawah sadar sebagai akibat pengalaman dari masa lampau. Reaksi perasaan lebih
mudah dialami oleh wanita karena mereka memiliki intuisi/perasaan yang lebih
kuat dari pada pria yang lebih mengandalkan otak/intelektualitas. Namun
demikian sebenarnya keduanya adalah penting dan sama-sama dibutuhkan karena
akan lebih baik jika reaksi perasaan kemudian juga disusul dengan reaksi otak.
Perasaan adalah fakta yang tidak dapat disangkal, harus dialami, ibarat energi
yang tercipta dari dalam diri sendiri. Sesuatu yang tidak boleh ditekan/disimpan
supaya bisa mendapatkan ketenangan, tetapi dalam mengekspresikannya harus
dengan sikap yang dewasa.
Untuk dapat
mengendalikan perasaan dengan cara yang dewasa maka sangat penting untuk dapat
mengenal perasaannya. Untuk dapat mengenali bagaimana persaannya memerlukan
beberapa latihan yang dapat dipelajari secara bertahap setiap hari. Ada panduan
buku yang dapat dilihat untuk melakukan latihan ini. Latihan-latihan yang
dilakukan sangat penting untuk pertumbuhan kedewasaan dan sangat relevan bagi
pembinaan hidup rohani. Sebagai pengikut Kristus seringkali perbuatan yang
dilakukan tidak cocok dengan semangat Injil, entah sadar atau tidak egoisme
selalu kuat menguasai, bahkan meskipun percaya pada kuasa dan pemeliharaanNya
setiap saat namun kegelisahan akan hal-hal kecil sekalipun tetap menguasai.
Jika sungguh-sungguh melihat kedalam diri maka akan banyak terungkap konflik
perasaan. Dalam hal ini pikiran/reaksi otak dapat berperan untuk mengontrol perasaan,
meskipun tidak selalu mudah dan berhasil, oleh karena itu harus tetap disertai
mempercayakan diri terhadap cinta kasih Tuhan dan sesama.
Otak kita bagaikan
gudang raksasa yang merekam dan menyimpan rangkaian peristiwa yang pernah kita
alami dan suatu saat ingatan-igatan itu akan dibangkitkan kembali yang
kesemuanya berkaitan dengan perasaan. Setelah ingatan muncul maka timbulah
penilaian, yang menyebabkan rasa enak/tidak maupun sakit/gembira, yang mengenai
urat saraf sehingga memberi signal ke otak dan akan diteruskan ke seluruh
bagian tubuh hingga menimbulkan reaksi kimia yang disebut perasaan/emosi.
Perasaan merupakan daya yang menggerakkan sehingga mampu merespon situasi
disekitarnya, hal ini nanti akan sangat berpengaruh pada kondisi kejiwaan dan
kesehatan seseorang jika perasaan/emosi tadi tidak diungkapkan, baik itu dalam
bentuk gembira ataupun sedih.
Perasaan harus
diungkapkan, banyak cara untuk mengungkapkan perasaan, antara lain doa, melalui
ini kita bisa mengekspresikan rasa senang ataupun marah, karena Tuhan Maha baik
dan bersedia mendengar semua ucapan syukur serta keluh kesah kita, sehingga
dengan perasaan yang dapat diungkapkan ini maka kita akan sampai pada kesadaran
kita, dimana nantinya otak akan dapat mengadakan penilaian atas perasaan kita.
Setelah itu banyak kemungkinan sikap yang akan diambil, mungkin acuh tak acuh (represi),
mengikuti, mulai bertanya. Hanya perbuatan yang dapat dinilai secara moral,
sedangkan perasaan tidak, yang dapat dilakukan hanya menilai positif/negatif
dari perasaan itu. Banyak menahan perasaan apalagi sejak masih muda dapat
menghambat proses kedewasaan. Namun pengungkapannya juga harus bijaksana dan
disiplin karena jika lepas kontrol akan membuat diri sebagai orang yang
dangkal, kemudian dapat juga melalui pertimbangan sehingga dapat menjwab
ya/tidak pada perasaan. Banyak cara untuk melatih diri mengungkapkan perasaan
yang disajikan dalam buku panduan. Lebih baik jika memperhatikan cara bicara
dan cara mendengar, hal ini akan dapat menyadari penyebab perasaan itu tanpa
menyalahkan orang lain, karena perasaan tidak dapat dibenar salahkan ataupun
dimintakan maaf, dinilai logis/tidak logis.
Sikap dalam mengontrol
perasaan, antara lain ketenangan dan menilai perasaan secara dewasa, yaitu
pertama menyadari kemudian menerima kenyataan. Dengan demikian dapat
menjalankan tanggungjawab hidup yang harus dijalankan dan mencari waktu yang
tepat untuk dapat melepaskan perasaannya, sehingga tidak ada yang dikorbankan
karena perasaan yang sedang dialami tersebut.
Dengan menyadari
perasaan kita dapat menangani perasaan sekaligus menangkap sesuatu tentang diri
kita, karena perasaan mengungkapkan tentang kebutuhan, keinginan serta dambaan
kita. Namun demikian perasaan tak pernah realistis sehingga reaksi otak penting
untuk berperan juga.
Tidak seorangpun dapat
langsung menyebabkan timbulnya emosi dalam diri kita, karena hal itu sudah ada
tersimpan dalam struktur diri kita, sehingga kita juga tidak boleh
menilai/mengadili reaksi emosional orang lain. Sikap yang mungkin timbul akibat
perasaan kita, yang pertama supresi, yaitu sikap mengontrol perasaan dengan
ketenangan dan menilainya secara dewasa, yang kedua adalah represi yaitu dengan
menekan perasaan, seolah-olah baik-baik saja meskipun hatinya memberontak
sehingga dapat menimbulkan banyak gangguan kesehatan, baik jasmani maupun
rohani.
Kebutuhan mendasar
manusia adalah kemampuan untuk mencintai diri sendiri meskipun hal ini tidak
mudah untuk dilakukan, dan hati adalah lambang diri sendiri itu. Orang yang
hidupnya dipenuhi keharusan cenderung menganggap dirinnya hina dan orang
seperti ini mempunyai harga diri yang sakit dan menempatkan Tuhan bukan sebagai
Abba melainkan sebagai pribadi yang selalu menuntut. Dalam hubungan dengan
Tuhan setia, taat tetapi melakukan semuanya dengan terpaksa sebagai kewajiban
dan tidak memberi kesempatan pada Tuhan untuk mengerjakan karya cinta kasihNya
dalam hidup mereka.
Banyak orang yang
mengaku diri mereka Kristen tetapi hatinya tidak dapat mempercayai bahwa Tuhan
menciptakan mereka segambar dengan diriNya. Selalu merasa diri adalah sampah,
meskipun tak seorangpun terlahir dengan harga diri yang jelek karena Tuhan
menciptakan manusia secara baik dan harga diri yang utuh. Rasa harga diri yang
rendah merupakan bentukkan masa lampau, yang dikemudian hari menimbulkan
penilaian dan penafsiran yang salah tentang diri sendiri.
Mencintai diri sendiri
agar dapat mencintai Tuhan adalah penyangkalan diri, akan tetapi kita tidak
akan dapat menyangkal diri kalu kita belum sepenuhnya mengenal diri kita sendiri,
belum mempunyai harga diri yang kuat, dan kita tidak akan menyerahkan diri pada
Tuhan karena tidak tahu apa yang dapat diberikan. Oleh karena itu kita tidak
akan mampumenyerahkan diri kalau belum mampu mengenal Tuhan dan mencinta diri
kita.
Cinta diri dan egoisme
merupakan dua hal yang berbeda, karena cinta diri berarti menerima diri apa
adanya dengan segala kemampuan dan keterbatasan sedangkan egoisme adalah orang
yang belum mempunyai aku dan terus menerus mencari aku, dan ini adalah
penyakit.
Injil berlaku relevan
sampai sekarang dan untuk dapat menghayatinya kita harus dapat mencintai diri
terlebih dahulu. Adalah hak setiap orang untuk dicintai dan diperhatikan, dan
jika kita tidak mempunyai harga diri, marilah mulai berusaha membangun rasa
harga diri kita.
Langkah yang dapat
dilakukan untuk membangun rasa cinta diri, yaitu menyadari dan menerima
kenyataan diri apa adanya, kemudian mngontrol ungkapan diri dengan bahasa yang
dapat mempengaruhi perasaan diri. Mulai menghargai tubuh sendiri, meneliti bakat
diri, berdoa dan membiarkan cinta Tuhan menyapa, mengenang kisah-kisah cinta
dalam kehidupan sendiri, hidup di masa sekarang, hentikan mengusahakan agar
diri dicintai, jangan mengejar hal-hal yang tinggi kalau masih lapar dengan hal
yang mendasar, dengan demikian iman merupakan relasi dengan Tuhan secara
pribadi, jawaban kepada Tuhan secara pribadi serta penyerahan diri pada Tuhan
secara bebas hingga terjalin persekutuan denganNya. Perasaan adalah tempat
persekutuan dengan Tuhan, lewat sentuhan perasaan kita ungkapkan jawaban kita
padaNya, dengan pertolongan akal budi kita dapat memahamiNya, meskipun hanya
lewat perasaanlah kita dapat menjalin relasi denganNya. Perasaan harus
diungkapkan secara dewasa sehingga kita menjadi manusia yang aktif dan dinamis,
terus membina iman dan mencintai diri sebagaimana adanya sehingga dapat
mencintai Tuhan. Selalu memandang diri berharga sebagai ciptaanNya dan karena
itu merasa pantas diri adalah persembahan yang hidup yang berkenan
dihadapanNya.




